Behavioral Finance : Mental accounting bias

Mental accounting itu baik, mental accounting bias itu buruk. Mental accounting adalah kecenderungan mengelompokkan keuangan dalam life-cyc...

Mental accounting itu baik, mental accounting bias itu buruk. Mental accounting adalah kecenderungan mengelompokkan keuangan dalam life-cycle atau membuat perencanaan keuangan (dengan alokasi-alokasi keuangan). Contoh: saat membeli tiket à seseorang yang mengalami mental accounting bias tidak akan mau membeli tiket lagi, karena mereka menganggap harga tiket = harga tiket yang hilang + harga tiket yang baru. Padahal seseungguhnya harga tiketnya sama.
Self-control bias adalah kegagalan mengendalikan diri karena tidak disiplin, karena merasa bisa mengendalikan masa depan.
Dalam mental accounting, asset di klasifikasikan menjadi 3. Efeknya sama yaitu jika disiplin akan bagus dalam perencanaa. Current income, current assets, future income.

Implikasi pada investor :
1.  Mental acoounting bias dapat menyebabkan seseorang membayangkan bahwa investasi berada di pos yang berbeda. Hal ini membuat investor melupakan korelasi dari keseluruhan kekayaan.
Saran : penasehat keuangan perlu menunjukkan diversifikasi portofolio dan korelasinya.  Walau investasi berbeda-beda namun tetap dapat berkorelasi.
2.  Mental acoounting bias dapat menyebabkan investor tidak rasional dalam membedakan return dari pendapatan dan biaya modal.
Saran : investor perlu mengingat total return, dan fokus pada portofolio global yang dimiliki bukan pada satu aspek saja.
3.   Mental acoounting bias dapat membuat investor terpengaruh pada home money.
Saran : portofolio didominasi oleh satu asset saja tidak baik, tidak akan diversifikasi. Bias ini membuat seseorang tidak rasional nyaman dengan saham perusahaan mereka sendiri.
4.   Mental acoounting bias dapat menyebabkan investor mengalokasikan employer stock.
Saran : perlu bijaksana dalam investasi, karena investor yang merasa mempunyai kekayaan lebih akan berinvestasi lebih dan akan lebih banyak mengambil risiko.
5. Mental acoounting bias dapat menyebabkan investor ragu untuk menjual investasi yang menghasilkan keuntungan yang signifikan. 
Saran : investasi mungkin akan menghasilkan keuntungan yang besar dimasa lalu tapi kebanyakan investor harus paham prospek masa depan adalah hal yang penting saat ini.
----------------
Daftar Pustaka 
Pompian, M. M. (2006). Behavioral Finance and Wealth Management. How to Build Optimal Portfolios That Account for Investor Biases, New Jersey.

COMMENTS

Nama

Akuntansi Keuangan,15,Akuntansi Manajemen,15,Aplikasi Akuntansi,1,Ekonomi,6,Keperilakuan,24,Manajemen Keuangan,2,Perpajakan,7,Sistem Informasi Akuntansi,1,Sistem Informasi Manajemen,4,Teori Akuntansi,11,Teori Investasi dan Pasar Modal,12,
ltr
item
Info Akuntansi: Behavioral Finance : Mental accounting bias
Behavioral Finance : Mental accounting bias
Info Akuntansi
https://www.infoakuntansi.id/2019/07/behavioral-finance-mental-accounting.html
https://www.infoakuntansi.id/
https://www.infoakuntansi.id/
https://www.infoakuntansi.id/2019/07/behavioral-finance-mental-accounting.html
true
566536763226980104
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy