Etika dan Sistem Ekonomi

Etika pada intinya memperlajari perilaku atau tindakan seseorang dan kelompok atau lembaga yang dianggap baik dan tidak baik. Sistem ekonom...

Etika pada intinya memperlajari perilaku atau tindakan seseorang dan kelompok atau lembaga yang dianggap baik dan tidak baik. Sistem ekonomi apa saja dapat memunculkan banyak persoalan yang bersifat tidak etis. Etis tidaknya tergantung pada tingkat individual pada pelaku dalam aktivitas ekonomi seperti pejabat, birokrasi atau pimpinan suatu negara bukan sistem yang dipilih oleh negara. Disini yang berperan adalah memaknai hakikat manusia sebagai manusia yang utuh atau manusia yang tidak utuh.

Peran Bisnis
Aktivitas bisnis sudah ada sejak manusia dibumi ini sebagai kegiatan untuk emnghasilkan dan menyediakan barang dan jasa untuk mendukung kebutuhan manusia. aktivitas bisnis bukan saja menghasilkan barang dan jasa tapi juga kegiatan mendistribusikan barang dan jasa tersebut.
Terdapat dua pandangan tentang bisnis yang diungkapkan oleh Sonny Keraf (1998) yaitu pandangan realistis dan pandangan idealis. Pandangan realistis melihat tujuan bisnis adalah untuk mencari keuntungan bagi pelaku bisnis, sedangkan aktivitas produksi dan distribusi barang merupakan sarana/alat untuk merealisasikan keuntungan tersebut. Pandangan idealis adalah suatu pandangan di mana tujuan bisnis yang terutama adalah menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sedangkan keuntungan yang diperoleh  merupakan konsekuensi logis dari kegiatan bisnis. Pandangan praktis-realistis atas bisnis muncul dari individu yang paham moralitasnya didominasi oleh teori etika egoisme atau teori hak, sedangakan paham idealisme dalam bisnis muncul dari individu yang paham moralitasnya didominasi oleh teori deontologi, teori keutamaan dan teori teonom.
Penjelasan pro-kontra mengenai aktivitas bisnis dilihat dari sudut pandang etika dijelaskan melalui pemikiran Lawrence, Weber, Post (2005) tentang budaya etis yaitu pemahaman tak terucap dari semua karyawan pelaku bisnis tentang perilaku yang dapat dan tidak dapat diterima. Yang menentukan derajat keetisan atau budaya etis dari suatu kegiatan bisnis adalah orang kunci dibelakang kegiatan bisnis itu sendiri bukan bisnis itu sendiri.

Dimensi Etika dalam Bisnis
Berbagai teori etika muncul dengan penalaran yang berbeda-beda.Dipakai dua acuan pokok yaitu: 
Definisi etika adalah tinjauan kritis tentang baik-tidaknya perilaku atau tindak, 
Ukuran penilaian menggunakan tiga tingkat kesadaran yaitu kesadaran hewani, kesadaran manusiawi dan kesadran spiritual/transendental (teori teonom).
Dari sudut pandang kesadaran hewani menilai bahwa suatu tindakan dianggap etis bila tindakan itu bermanfaat bagi seseorang dan suatu tindakan dianggap tidak etis bila merugikan bagi diri individu yang bersangkutan. Sudut pandang kesadaranm manusiawi menilai semua tindakan yang bermanfaat bagi diri individu dan masyarakat bersifat etis namun bila tindakan itu merugikan masyarakat dan alam makan dinilai  tidak etis meskipun menguntungkan diri individu. Dari sudut pandang kesadaran spiritual menilai suatu tindakan tersebut bermanfaat bagi diri individu, masyarakat dan alam serta sesuai dengan ajaran/perintah agama.

Terdapat tiga dimensi dalam etika dan bisnis:
Dimensi hukum dalam bisnis
Dalam kaitannya dengan tinjauan dari aspek hukum ini, De George (Dalam Sonny Keraf, 1998) membedakan dua macam pandangan tentang status perusahaan yaitu legal creator di mana perusahaan diciptakan secara legal oleh negara sehingga perusahaan adalah sebagai badan hukum dan perusahaan mempunyai hak dan kewajiban hukum sebagaimana layaknya hukum yang dimiliki manusia. Dan legal recognition di mana perusahaan bukan diciptakan atau didirikan oleh negara, melainkan oleh orang yang mempunyai kepentingan untuk memperoleh keuntungan. Peranan negara dalam hal ini hanya mendaftarkan, mengesahkan dan memberi izin secara hukum atas keberadaan perusahaan tersebut. Setiap peraturan hukum yang baik memang harus dijiwai oleh moralitas. Namun tidak semua peraturan hukum berkaitan dengan moral. Ada anggapan bila ditinjau dari aspek moral dianggap kurang etis misalnya Undang-Undang Lalu Lintas.

Dimensi Sosial dalam Bisnis
Perusahaan saat ini sudah berkembang menjadi suatu sistem terbuka yang sangat kompleks. Sebagai suatu sistem, berarti di dalam organisasi perusahaan terdapat berbagai elemen, unsur, orang, dan jaringan yang saling terhubung, saling berinteraksi, saling bergantung, dan saling berkepentingan. Berbagai sistem terbuka terdapat faktor internal seperti faktor sumber daya manusia dan sumber daya non-manusia lalu ada faktor eksternal yang terdiri atas elemen manusia dan non-manusia. Faktor eksternal inilah yang pada hakikatnya diciptakan karena sebagai kunci keberhasilan kinerja perusahaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa keberadaan suatu perusahaan sebenarnya ditentukan oleh manusia atau orang baik yang ada di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan yang semuanya memiliki kepentingan dan kekuatan untuk mendukung atau menghambat keberadaan dan pertumbuhan perusahaan. Oleh karena itu, bila perusahaan dilihat dari dimensi sosial, tujuan pokok perusahaan adalah untuk menciptakan barang dan jasa yang diperlukan oleh masyarakat, sedangkan keuntungan akan datang dengan sendirinya. Pandangan ini selanjutnya akan melahirkan paradigma dan konsep stakeholder dalam pengelolaan perusahaan.

Dimensi Spiritual dalam Bisnis
Keberadaan perusahaan diperlukan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Sepanjang masyarakat membutuhkan produk perusahaan, maka perusahaan akan tetap exist. Kegiatan bisnis dalam pandangan Barat tidak pernah dikaitkan dengan agama (kepercayaan), padahal dalam ajaran agama yang dipercayai oleh manusia ada ketentuan yang sangat jelas tentang melakukan kegiatan bisnis. Dalam dimensi spiritual, para pengusaha yang ada di dalam perusahaan memaknai pengelolaan perusahaan sebagai bagian dari ibadah kepada Tuhan, menjadikan perusahaan yang dikelola menjadi sejahtera, sekaligus menjaga dan memelihara kelestarian alam. Namun dalam kenyataannya, masih terdapat banyak pelaku bisnis dan oknum stakeholder yang belum sepenuhnya mengikuti ajaran agama dalam menjalankan praktek bisnisnya.





COMMENTS

Nama

Akuntansi Keuangan,15,Akuntansi Manajemen,15,Aplikasi Akuntansi,1,Ekonomi,6,Keperilakuan,24,Manajemen Keuangan,2,Perpajakan,7,Sistem Informasi Akuntansi,1,Sistem Informasi Manajemen,4,Teori Akuntansi,11,Teori Investasi dan Pasar Modal,12,
ltr
item
Info Akuntansi: Etika dan Sistem Ekonomi
Etika dan Sistem Ekonomi
Info Akuntansi
https://www.infoakuntansi.id/2019/06/etika-dan-sistem-ekonomi.html
https://www.infoakuntansi.id/
https://www.infoakuntansi.id/
https://www.infoakuntansi.id/2019/06/etika-dan-sistem-ekonomi.html
true
566536763226980104
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy